JAKARTA, BSNP-INDONESIA.ORG — Sebagian masyarakat saat ini,
sudah ada yang punya keyakinan bahwa untuk mendapatkan penghasilan yang akan
digunakan sebagai mata pencaharian hidup, tidak hanya lewat sekolah. Ada
orangtua yang yakin bahwa menyalurkan minat dan bakat anaknya, bisa dilakukan
di Sekolahrumah.
Keyakinan inilah, menurut Petrus Harri Utomo, anggota Tim
Ahli penyusunan Standar Sekolahrumah yang mendorong bermunculannya
Sekolahrumah.
“Sekolahrumah juga bisa jadi sandaran hidup. Saya melihat
praktek dalam Sekolahrumah, sangat tanggap sekali. Kalau dulu ada stereotype,
sekolah untuk mencari kerja, sekarang sudah ada keyakinan di luar itupun bisa
mendapatkan penghasilan,” ujarnya dalam pembahasan Standar Sekolahrumah yang
digelar oleh Badan Standar Nasional Pendidikan di Jakarta, Sabtu (8/5/2021).
Pertemuan yang berlangsung secara daring ini, didampingi dua
orang orang anggota BSNP, Poncojari Wahyono dan Romo Baskoro Poedjinoegroho.
Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri Ketua BSNP Abdul Mu’ti dan anggota BSNP
Bambang Setiaji.
Di masyarakat, menurut Harri, sudah ada yang berpandangan
dengan jadi youtuber,chef, atlit, atau seniman, sudah bisa digunakan untuk
mendapatkan penghasilan.
“Ini merupakan perkembangan maju, menurut saya. Mereka sudah
punya keyakinan lain, bahwa untuk mendapat penghasilan itu tidak hanya bisa
didapat dari sekolah,” ujarnya.
Harry juga menyitir pasal 1 ayat (2) UU Sisdiknas no:20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, Pendidikan nasional adalah
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional
Indonesia dan tanggapterhadap tuntutan perubahan zaman.
Menurutnya, landasan ini amat penting untuk membangun pondasi
pendidikan yang bermutu, terutama terkait dengan dasar kebudayaan nasional.
Ia kemudian juga menyebutkan pasal 4 ayat (5) UU Sisdiknas
yang memuat tentang prinsip penyelenggaran pendidikan. Disebutkan, Pendidikan
diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,menulis, dan berhitung bagi
segenap warga masyarakat.
“Dasar budaya membaca, menulis dan berhitung ini, amat
penting untuk menjadi pondasi anak belajar di masa depan. Saya tidak bisa
membayangkan jika seorang anak tidak bisa menulis dan membaca, serta
berhitung,” ujar Harri.
Ia juga menegaskan soal pendidikan alternatif Sekolahrumah
yang memberikan kebebasan pada anak-anak untuk mengasah minat dan keahliannya
untuk kehidupannya nanti.
Elih Sudiapermana yang menjadi anggota Tim Ahli Standar
Sekolahrumah mengatakan dua hal, satuan pendidikan dan krikulum. Ia menegaskan,
Sekolahrumah itu merupakan pendidikan informal. Karakteristik Sekolahrumah
adalah orangtua dan lingkungan.
“Kemudian berkembang ke komunitas. Ini bisa berkembang
menjadi satuan pendidikan. Kalau sudah di komunitas ini, apakah tidak bisa
bergeser menjadi pendidikan non-formalsaja,” ujarnya.
Dalam naskah akademik Standar Sekolahrumah, Elih
mengingatkan, soal komponen kebangsaan yang perlu ditanamkan bagi anak yang
memilih Sekolahrumah.








BERANDAKU
0 comment:
Posting Komentar